Hatta

Oleh Aksara Kauniyah





Sahabat,
syahdan, seorang sais yang sedang terpekur di pelataran Stasiun Pasar Bawah dihampiri lelaki setengah baya berpotongan klimis. Tak pernah ia lihat pria ini sebelumnya. Lelaki dengan perawakan sederhana itu berniat menumpang. Pengendali bendi lekas menyebut sejumlah harga.

Tawar menawar terjadi, dan berlangsung amat alot. Namun, harga tak kunjung cocok. Sang sais yang gusar hilang kesabaran. Ia menghentak dengan suara setengah memekik, "Kalau tak punya uang, jangan tanya-tanya! Tak perlu naik bendi. Jalan kaki saja." Usai menghardik, sais itu buru-buru berlalu. Yang dihardik, cuma menyimpul senyum seraya menuruti perintah si empunya bendi yang geram. Ia berjalan kaki menuju rumah, tanpa amarah.

Barangkali, sais itu selamanya tak pernah tahu. Yang baru saja dibentaknya adalah Mohammad Hatta, wakil presiden yang bersama Sukarno menjeritkan kemerdekaan. Seketika, ingatan kita pun melanglang menandangi sosok yang tak banyak cakap, sederhana, ramah, dan sejak awal mewariskan keteladanan politik yang jarang dipunya: Ia mengogahi korupsi. Ia menampik kolusi. Keseharian kita belakangan ini akan tampak gagap berhadapan dengan sesuatu yang bermuasal dari hal-hal silam, kuno—tapi beraroma amat profetik. Hatta, membikin banyak pemilik takhta dan kuasa menjadi tampak terlalu kerdil dan minder. Ia, adalah teladan dengan gagasan-gagasan besar yang menggetarkan bagi hari-hari ketika hanya uang dihitung dan didengar.

Sahabat,
sejarah adalah bincang-bincang kita dengan masa lalu. Ada yang bertutur, dan kita lamat-lamat belajar dan mengeja. Tak seluruhnya sempurna, sebagaimana sebatang gading yang ditinggal mati seekor gajah yang tak seluruhnya mulus. Pun begitu, kita masih bisa menatah, kita masih bisa merajah gading tersisa. Maka, Hatta mewariskan arti, memberi bentuk, mengusung makna. Seraya generasi tiba dan beranjak pergi, berjuta orang mengais pekerti, memburu rasa malu, mengenali rasa bersalah, belajar bertenggang, belanjar berendah hati dan syukur.

Begitulah, Sahabat. Mengenai perihal-perihal baik itu, saya teringat perlbagai peristiwa dari berbilang waktu yang sudah lama lewat.

Kita tahu, perseteruan Hatta dengan Sukarno tak cuma sekali. Bahkan sejak era ketika bedil masih berbunyi dan konstitusi belum menjadi resmi. Perselisihan keduanya makin sukar merapat ke lokan negosiasi. Pada waktu Sukarno menampik Maklumat X, Hatta malah membubuhi tanda tangan dan mengesahi multipartai berlaku di negeri yang baru merdeka. Kekesalan Hatta juga sengaja ditunjukkan amat atraktif saat Sukarno mengambil Hartini sebagai istri, selain Fatmawati. Sampai Sukarno wafat, Hatta nyaris tak bertegur sapa dengan Hartini yang ikut diboyong masuk istana. Klimaks ketegangan itu mengganas saat demokrasi terpimpin dicanang. Kejengkelan itu akhirnya tak lagi membisu, Hatta pergi meninggalkan Sukarno yang tardampar di atas tampuk bersama takhta yang kelihatan makin renta, sekaligus hilang kesuciannya.

Kita pun akhirnya tahu bagaimana keputusan itu menjadi amat memukau. Terutama bila mengingat, brutus politik menjadi habituasi yang lumrah bagi semua jaman. Hatta memilih minggat ketimbang coup d'etat sambil menanggung status sebagai pengkhianat. Hatta memilih keluar, ketimbang membusuk di dalam hipokrisi kronis. Ia menorehkan sejenis batas—yang membuatnya terlempar dari gelanggang sebagai pecundang di dunia politik orde lama. Ia beroposisi, dengan menempuh banyak resiko. Demokrasi Kita, buah pikir Hatta, jadi bacaan terlarang. Pandji Masyarakat yang memuat tulisan itu ikut dibekap, redaksinya terjengkang ke balik terali.

Hatta yang bukan ahli nujum buru-buru meramal sambil memberi ingat, "Diktator yang bergantung pada kewibawaan orang-seorang tidak lama umurnya" dan "akan roboh dengan sendirinya seperti rumah kartu." Sukarno menutup telinga, hingga turbulensi di 1965 mengobrak-abrik keadaan dan membenarkan banyak hal yang dikhawatirkan Hatta. Sukarno rubuh. Sang pengganti mengisolasinya di sebuah kediaman sunyi. Kawan-kawan yang sebelumnya gempita ramai-ramai menjauh.

Itulah yang terjadi.

Tapi Hatta hidup tanpa dendam menyalak. Ketika banyak orang dilanda cemas disangkutpauti dengan Sukarno, Hattalah yang paling rajin bertandang menjenguk. Ketika Guntur, putera Sukarno, bingung mencari wali, Hatta pula yang langsung menyatakan kesediaan tanpa pikir dan timbang. Hatta tak membangun jarak. Ia mendekat jutru ketika kepengecutan membuat banyak orang terbirit.

Sahabat, baik Hatta maupun Sukarno, bukanlah nabi.

Sementara para pekerja Tuhan itu sibuk dengan risalah, titah, wahyu, dan kitab suci, maka seorang raja, bangsawan, dan politisi akan lebih banyak berurusan dengan perihal-perihal profan, politik, banal, kuasa, dan juga mungkin, ketololan. Seseorang yang seumur hidupnya barangkali selalu digelayuti cemas dan khawatir berakhir mati dengan sebilah kapak menancap di kepala sebagaimana menimpa Leon Trotsky. Seseorang yang acap ngeri dengan kematian tanpa sayup-sayup doa dan terkirim ke lahat tanpa nisan atau salib seperti nasib Tan Malaka.

Yang menarik bagi saya, Hatta bisa tetap hadir tanpa beban. Dengan atapun tanpa kekuasaan tergenggam. Saya berusaha menduga-duga. Barangkali, karena bagi Hatta politik bukan berkisar peta kuasa, konflik antarpuak, apalagi ribut-ribut soal pundi kekayaan. Politik yang diwariskan Hatta bersuara beda: solidaritas. Dan karena itu juga nasionalisme yang ia tempuhi menyiratkan kehendak bersaudara, bukan gemuruh penaklukan ataupun letupan laras berpucuk-pucuk.

Dan yang paling disayangkan, saya dan juga kebanyakan orang, agaknya belum betul-betul terbiasa dengan abstraksi begitu. Entah berapa puluh tahun lagi. Agaknya kita masih akan lama gagap dan malu di depan sejarah. Agaknya kita masih akan lama gagap dan malu mengingat daftar kesewenang-wenangan atas bangsa sendiri yang belum menunjukkan tanda-tanda tamat.





________________________________


n.b.: Pada ia, yang selamanya kudesiskan rindu.